Spanduk Corona aja Mau

 Pagi ini.  Seperti biasa menunaikan kewajiban tugas ke sekolah. 

Honda win menemani pula menghantarkan sang majikan bertugas. 

Perjalanan menuju tempat tugas.  Melewati jalan berbukit.  Nan indah sedap dipandang mata. 

Sesekali pandangan menoleh kanan kiri.  Menikmati pemandangan panorama dipagi hari. 

Nampak burung kutilang terbang kian kemari. Seakan menemani langkah ini. Menyambut sang mentari pagi. 

Tak terasa. Sudah tiba dipintu gerbang sekolah. 

Nampak penjaga sekolah sedang menyampu membersihkan halaman sekolah. 

" Wilujeng enjing mang" aku menyapa. 

" Wilujeng pak. Kumaha damang?  Ucap mang Mali. 

"Alhmdulillah. Kumaha Mang Mali.  Damang oge? "

" Alhmdulillah pak"  ucapnya. 

Bergegas menuju ruang kantor.  Selang beberapa menit.  Mang mali menawarkan minum kopi. 

" Bade ngopi pak? "

"  Wah siip mang oke"

Tak berselang lama kopi hitam nampak masih panas,  tersajikan. 

Segera aku minum perlahan, sungguj terasa nikmat dan hangat. 

" Kopi cap kupu-kupu, nyah mang" kata ku. 

" Leres pak" jawab mang mali. 

" Kopi ngeunah mang" ungkap ku. 

Selang beberapa menit.  Mang mali menyampaikan informasi.  Bahwa Spanduk edukasi Corona,  hilang dua buah. 

Kaget juga sesaat. Kok bisa ya.

Lalu tujuannya untuk apa, spanduk dicuri.  Toh tidak bernilai lebih untuk di jual. 

Lantas gak bisa juga dijual. Aneh bener ya.  Spanduk aja mau. 

Apa karena latah ya. Biar viral kali ya. Tapi viral apanya ya. Duh makin bingung juga. 

" Buat tutup Saung kali pak " kat mang mali. 

" Ah masa iya mang"

" Spanduk biasa aja mau"

" Iya juga ya pak" kata mang mali

Sambil bergegas untuk pamit menyelesaikan bersih- bersih halaman sekolah. 

Jadi teringat sapnduk yg rame di berita. 

Nih yang maling spanduk disekolah apa protes sama virus corona kali ya. 

Jangan-jangan nih maling,  tidak bisa baca ya. 

Duh semakin banyak menduga sama maling. Semakin gak karuan pikiran. 

Sampe kopi pun jadi dingin. 

Semoga tuh spanduk dipake hiasan dinding dirumahnya. 

Ya sudah lah.  Saya lanjutkan kembali ngopi. 

Kopi hitam cap kupu-kupu. 






Maskernya Tuh Disini

Lama juga ya kita bermasker.  Kapan ya nih virus corona segera hengkang dimuka bumi. 

Dulu. Orang yang pake masker, orang yang sedang berkendara roda dua. 

Atau perempuan yang ingin cantik dan halus kulitnya.  Menggunakan masker luluran alpukat.

So, pake masker tuh menghindari polusi,  asap kendaraan roda empat. 

Yang knalpotnya mengeluarkan asap.  Kaya cerobong asap pabrik. 

Jadi inget film ninja. Pake masker juga  kan. 

Nah apalagi di film layar jaman dulu ya.  Adegan penjahat alias copet beraksi,  pake masker juga kan?. 

Betapa dengan menggunakan masler.  Bisa melahirkan berbagai karakter di film. 

Kondisi sekarang gimana nih?.  Apa kaya karakter difilm?. 

Hayo siapa yg bisa jawab?. Boleh deh tulis dikolom komentar ya. 

Tapi jawabnya jangan propokatip doong.  Gak asik ya gak. 

Masker of the face. 

Kondisi saat ini, sangat riskan tidak menggunakan masker. 

Pake masker aja gak menjamin terhindar dari virus. Apalagi gak pake. 

Penting kan masker?. 

Masih ingat gak, dulu tuh ada dong yang nyinyir. Eiiit positip thinking doong.

Udah udah udah sekali masker tetap masker. 

Tapi awas looh.  Penting iya.  Tapi masker jangan dipake buat ngumpetin sesuatu yang gak penting. 

Loh! Maksudnya apa nih. 

Pikir aja sendiri ya. Pernah gak ngalamin pake masker, punya maksud tertentu. 

Loh,  maksudnya apa lagi nih. 

Gak ada maksud apa-apa sih, cuma nanya aja. 

Tapi. Bener kan,  hayooo jujur. 

Selamat bermasker. Pake maskernya ya. 


Salam literasi


SUDUT PELANGI KAMPUNG

Serpihan Seni Padepokan Silat


Tadi malam. Kita jalan malam bertamu ke salah satu Padepokan Silat. Tepat selesai melaksanakan shalat magrib. Kita bersiap menuju Padepokan.

Anak saya yang pertama, tidak turut serta. Diajak pun enggan, mungkin hal ini tidak menarik baginya. Ya sudah tak mengapa.

Saya, istri beserta anak saya yang kedua, bergegas berangkat. Kita berharap tidak terlalu malam nanti pulangnya.

Kami keluar rumah menuju Padepokan Silat menggunakan motor Honda Win. Motor ini saya dapat tahun 2005. Hadiah dari kakak dulu waktu beliau berkerja di pelayaran.

Motor yang penuh cerita dan kenangan yang tak terlupakan. Setia kemanapun mengantarkan aktivitas saya sehari-hari.

Jalan menuju Padepokan Silat melewati kampung Cirangrang Desa Sukanagara Kecamatan Muncang. Ujung kampung jalanya melewati jalan pesawahan. Jalan kecil hanya bisa dilalui motor saja. Jalannyapun licin dan berlubang.

Padepokan Silat Sinar Nagara didirikan oleh Abah Armad juga Abang, dan Ibu Asuhnya biasa dipanggil Ma Ratih. Padepokan lumayan sering tampil di berbagai acara.


Apresiasi buat para penggiat Padepokan Silat ini. Modernisasi sedikit demi sedikit banyak mengikis Seni Budaya kita.

Generasi sekarang cenderung tak tertarik, mau melestarikan Seni Budaya Lokal. Salah satunya Pencak Silat.

Padalah, Seni Budaya Lokal banyak terkandung nilai-nilai kehidupan. Banyak terkandung nilai-nilai Kearifan yang dapat dijadikan tuntunan hidup.

Pecak Silat merupakan Seni Kanuragan didalamnya adal olah raga dan olah rasa. Seni yang mengandung unsur keseimbangan antara manusia dengan Tuhan.

Ada dua anak malam ini. Mereka merupakan murid padepokan. Saya mintakan dua anak tersebut untuk menampilkan jurus silat yang sudah mereka pelajari.

Pelatihnya Neng Krisnawati. Banyak prestasi diraih, dari Tingkat Wilbi, Kabupaten hingga Tingkat Nasional. Neng Krisnawati, didaulat menjadi Duta Padepokan Sinar Nagara.

Semoga Padepokan Sinar Nagara tetap konsisten melestarikan warisan karuhun. Dan Pemerintah setempat memberikan dukungan.


Salam Literasi

Asikin Widi Jatnika

@Aikin





BUAIAN SAYANG TANAH KELAHIRANKU

 
Ada Cerita Dikampungku

Bapak bilang " Nak, 10 atau 20 tahun lagi kampung kita, pasti berubah keadaanya".

" Maksudnya pak" aku menyela.

" Coba kamu perhatikan sekeliling Kampung mu ini" Bapak melanjutkan kembali obrolannya.

Ku coba perhatikan apa yang Bapak sampaikan.

" Sudah mengerti nak apa yang Bapak maksud"

" Iya pak " jawabku.

Saat itu usia ku masih remaja. Kebiasaan kami ngobrol bersama. Bapak ku tempat ku mencurahkan isi hati.

Aku banyak belajar tentang kehidupan dan makna hidup dari beliau.

Kampung ku indah. Susananya nyaman. Tak ada satupun pendatang, kalau sudah bermukim pasti akan betah tinggal.

Saat aku remaja, penerangan jaringan PLN dikampung ku tidak ada saat itu. Kami hanya mengandalkan mesin diesel yang dikelola oleh perorangan. Membayarnya pun mingguan. Kalau tidak hanya membayar dengan 500-1,000 rupiah saja.

Oh iya. Mekanik yang menjalankan mesin diesel kampungku namanya Wa Rohani. beliau orangnya lucu dan pandai berkomedi, mirip pak Timbul Srimulat. Beliau sudah sejak lama tiada. Semoga amal kebaikan beliau menyertai disisi Syurga Allah SWT.Aamin.

Lampu menyala hanya sampai jam 12 malam saja. Seterusnya kami menggunakan lampu minyak.

Tak jarang pula, lampu minyak tersebut membuat kotor tangan dan hidung kami akan nampak terlihat hitam dari asap lampu.

Walapun kampungku belum maju. Hati ini merasa riang gembira. Karena alam dan lingkungannya asri. Sungai yang membentang  nampak jernih.

Waktu berlalu. Tak terasa sekarang tahun 2020.

Teringat aku, akan obrolan Bapak dahulu tentang keadaan Kampungku. Wah, jadi kenyataan.

Benar saja, saat ini semua nampak berbeda. Budaya, Sosial, Ekonomi.Pendidikan.

Soal Budaya, banyak kebiasaan-kebiasaan yang hilang.

Soal Sosial, banyak hal-hal yang nampak berbeda.

Soal Ekonomi, meningkat pesat.

Soal Pendidikan. Wah membanggakan. Sudah banyak yang lulusan Sarjana.

Banyak pendatang berbagai daerah yang bermukim lama, hingga menikah dengan gadis, kampungku.

Aktivitas warga kampungku, ada yang buruh, petani, pedagang, serta pegawai pemerintah.

Geliat perubahan Kampung ku dari waktu ke waktu berbeda.

Ada kalanya yang aku rasakan. Rindu suasana Kampungku yang dahulu.

Beranjak siang. Bising suara kendaraan bermotor lalu lalang adakalanya membuat pusing.

Bapak saja dahulu sudah memperkirakan perubahannya.

Tak terbayang, 10-20 tahun kedepan. Mungkin akan lebih berbeda lagi. Pasti itu. Semoga perubahan ini menjadikan masyarakatnya tidak lupa bersyukur.

Masyarakatnya mau menjaga dan tidak melupakan nilai-nilai leluhur yang dititipkan. Dan semoga generasi mendatang. Generasi yang cinta akan melestarikan nilai budaya.

Syukuri dan nikmati perubahan ini. tetapi jangan melupakan atas perubahan itu. Karena perubahan yang diterima tentu ada konsekwensi postip dan negatifnya.


Salam Literasi

Asikin Widi Jatnika

@Aikin




BERSAMA BU RITA WATI,S.Kom


Malas Oh Malas. Berbuah Prestasi


"Setelah kesulitan pasti ada kemudahan dan Belajar sepanjang hayat." 

(Rita Wati 2020) 


Flayer narasumber



Wah bangga nih. Tanjung Pinang punya putra daerah seorang Penulis hebat. Penulis berdarah Minang pula.

Selain Penulis juga seorang Guru, operator, kurator juga bloger. Luar biasa aktivitasnya padat yaa bu.

Beliau merupakan narasumber kali ini. Dipertemuan ke 21 di kelas WAG Menulis Gelombang 16.

Bu Rita Wati, S.Kom, namanya. beliau dipercaya dan diundang Omjay sebagai narasumber pertemuan kali ini.

Narasumber alumni jebolan angkatan gelombang 10. Memiliki banyak karya buku yang sudah diterbitkan.

Kelas WAG Menulis gelombang 10, mengasah dan menempa beliau dalam hal menulis, hingga beliau bisa mumpuni dalam menghasilkan buku.

Ini buku yang sudah diterbitkan.


Sampai hari ini. Masih tetap aktip ngeblog. Beliau aktip di tiga situs blog. Blogspot, Wordpress, Kompasiana.

https://teruslahmenulis.blogspot.com/?m=1

https://catatangurumilenial.wordpress.com/2020/09/09/uang-jajan-tiara/

https://www.kompasiana.com/ritapinang/5f4b29f3d541df030a41e7d4/cara-memilih-judul-dan-tema-agar-tulisan-kita-layak-terbit

Pengalamannya dalam menulis tidak didapatkan secara instant. Tempaan dan binaan dari para narasumber menjadikan beliau mampu melewati berbagai kendala dalam hal menulis buku.

September ceria merupakan momentum yang sangat menentukan. Profesor Ekoji. Mampu membooster dirinya untuk membuahkan menerbitkan buku.

Tak ketinggalan prestasi laiinya dalam hal menulis beliau pernah raih pula. diantaranya.  8 besar Lomba Menulis di Blog Tingkat Nasional dalam rangka HUT RI yang ke-75 tahun 2020. Finalis English Essay Competition for Teacher tahun 2013. 

https://teruslahmenulis.blogspot.com/2014/03/he-elimination-of-information.html

Rasa malas yang biasa hinggap pada diri beliau dalam hal menulis. Hilang tergantikan dengan tekad dan dorongan dari mentornya.

Alhasil bertualang sudah buku yang dibuatnya, semakin memacu beliau semangat selalu dengan menulis.

Menulis banyak memberikan kejutan-kejutan. Hingga sering kali Reward didapat dalam setiap kesempatannya menulis. Hal itu tersirat melalui blognya.

https://www.kompasiana.com/ritapinang/5f0c682bd541df1b9c07a456/4-cara-mendapatkan-reward

Nah dalam kesempatan kali ini beliau berbagi berbagai macam trik menulis dan menerbitkan buku.

Silahkan kunjungi link webnya :

https://teruslahmenulis.blogspot.com/2020/08/delapan-trik-jitu-pembelajaran-daring.html.

https://www.kompasiana.com/ritapinang/5f4b29f3d541df030a41e7d4/cara-memilih-judul-dan-tema-agar-tulisan-kita-layak-terbit

Sudah diklik linknya yaa.

Hilangkan rasa malas. Terus semangat, selalu konsisten. Ibarat iklan televisi , Apapun minumannya tetap Teh Sosro. Heheh. Maaf bukan iklan yaa.

Artinya Apapun rintangannya harus fokus.


Salam Literasi

Asikin Widi Jatnika

@Aikin

@Blogger kampung




 

DOA YANG TERKABULKAN

 

Ini Kejutan Buatku


"Hidup adalah suatu perjalanaan, karena itu  kita harus selalu siap akan kejutan kejutan nya yang nikmat" .

 ( Taufik uieks, 2020)

(poto : Bersama di Wisata Leuweung Adat)

Apa yang terpikirkan oleh mu kawan. Sekilas membaca moto diatas. Adakah adanya apa yang kawan rasakan?

Bermakna ya kawan? Moto tersebut. Itu merupakan  khasanah mata bathin seroang penulis hebat.

Betap hidup melalui lika - liku berbagai tantangan. Sudah siap menerimakah? akan sesuatu hal yang akan kita terima dalam setiap hembusan napas kita. Sesuatu yang mungkin akan kita hadapi. Apa itu? kejutan yang nikmat atau kejutan yang tidak nikmat.

Nah. Kenapa saya mengajak mu kawan, untuk memaknai moto tersebut. Karena motto tersebut, memiliki nilai rasa yang sangat tinggi. Sadarkah kita atas hal itu?.

Saat ini saya merasakannya kawan.

Saat ini saya merasa Bahagia.

Seakan doa hamba yang penuh dosa ini. Dikabulkan Tuhan. Doa  ungkapan hati . Komunikasi antara hamba dan TuhanNya.

Sejak lama saya menunggu hal ini terjadi. Dan harapan serta doa dipanjatkan. Tuhan buktikan. Kun Fayakun.

Terimakasih Tuhan. Engkau sentuh mata bathin pendamping hidup ku. Engkau bisikan kekuatan mu pada pelindung segala kejahatan nafsu ku.

Bidadari hati. Bidadari syurgaku.

Waktu itu. 

"Ayah" ijinkan ibu pergi ke pengajian, bersama ibu-ibu laiinya.

Tersentak sejenak saya termangu. Benarkah apa yang diucapakannya.

Apakah ini mimpi atau kenyataan. 

 " Alhmdulillah. Mangga geulis" tak terasa jawaban itu terucap.

"Leres nya yah" ungkap istrku.

Ternyata bukan mimpi. Ini kenyataan tersaksikan. Malaikatku menyentuhnya.

" Iraha jadwal pengajian na?. "Nanti hari jumat Ayah ".

"Mangga, Coab mun tibahela mah" jawabku sambil bercanda.

" Muhun Ayah. Haturnuhun" Istriku menimpali.

Saya pun semakin yakin bahwa permintaan istriku, untuk memberi ijin mengikuti pengajian di Majlis Taklim merupakan keinginan yang sangat tulus.

Doakan ya kawan. Semoga niat istriku untuk hadir dipengajian. Bukan keinginan sesaat. Tetapi merupakan keinginan yang memang sebuah kewajiban untuk dilakukan. Sebagai bentuk ibadah, mengikis dan dan menyulam kembali, mata hati dan pikiranya yang terkontaminasi dengan segala bentuk duniawi.

Hayoo. Siapa yang tidak senang. Justru yang dia inginkan permintaan menuju kejalan Allah SWT.

Untung saja tidak minta dibelikan perhiasan atau minta dibelikan mobil. Waduuh gak kebayang ya. Mati dah gue. haha.

Boro-boro beli yang mewah-mewah. Makan sehari-hari saja, mengandalkan sisa gaji bulanan. 

Nyata adanya kalau Tuhan berkehendak atas hambanya. Apapun bisa Tuhan perlihatkan atas kuasaNya.

Hari-demi hari. Kegiatan pengajian istriku berjalan dengan lancar. Sangat terasa sekali dampaknya. Tampak bersahaja.

Itulah kejutan yang saya dapatkan. Disaat saya sedang terpuruk didera sakit.Terimakasih Ya Rabb. Kejutan yang mengharukan..

Semoga istri-istri kita. Menjadi istri pendamping hidup dan penjaga syurga bagi anak-anak kita. Aamiin.

Apakah kawan mendapatkan kejutan-kejutan juga. Semoga kejutannya yang membahagiakan.Aamiin

Tetap berpikir positip atas kehendak yang Kuasa.



Salam Literasi

Asikin Widi Jatnika

@Aikin 20/11/2020 for Love




Bersama ibu Eva Haryati Israel,S.Kom

 

Dibalik Telur Pecah, ada Tekad dan Niat


 

Rabu, 18 Nopember 2020. Penuh semangat dan harapan. Semangat dan Harapan?. Ada apa dengan dua kata tersebut?. Tentu spesial sekali bagi saya kawan. Detik-detik penentuan. Untuk meraih mimpi menjadi kenyataan.

Lihat flayer diatas kawan. Ibu yang disudut pojok kanan atas ibu Eva Haryati Israel,S.Kom narasumber kali ini. Yang dipojok kiri bawah itu bu Aam Nurhasanah,S.Pd moderator yang selalu setia melempar materi narasumber.

Dan mata ini, turut serta memandu hati. Seakan ikhlas menuntun harapan dan mimpi. Sebegitu spesialkah kali ini?. Tentu kawan. Kali ini pertemuan ke 20. Pertemuan yang dinanti. Ibarat lomba lari, lari kencang terseok-seok menuju garis finish.

Pertemuan kali ini hadir ibu Evi. Beliau merupakan  seorang guru disalah satu SMA di Kupang. Setelah melihat  profil beliau melalui ringkasan channel youtubenya. Guru aktif banyak prestasi.

Menjadi guru, Duta Rumah Belajar, Instruktur Nasional, Guru pembatik, serta menjadi narasumber di berbagi kegiatan pendidikan.

Seorang istri dengan tiga anak, profesi sebagai guru. Tentu merupakan amanah yang tidak mudah untuk membagi waktu. Tetapi sepertinya hal itu mudah dilalui oleh bu evi. Tercermin dari prestasi yang diraih. Betul ya bu? Insting saya mengatakan demikian.

Inisiatif Omjay dan kawan-kawan memang patut diapresiasi, dengan adanya kelas WAG Menulis. Banyak peserta yang menjadi penulis hebat. Salah satunya, narasumber kali ini. Beliau merupakan Alumni  Kelas WAG Menulis Gelombang 7.

Hadirnya para narasumber hebat, tanpa pamrih membagi ilmu menulis pada setiap gelombang, berhasil mengubah mindset para peserta.

Dari hanya sekedar menulis biasa, mampu menulis menjadi luar biasa. Betapa berhasil dan cepatnya ilmu yang dibagikan oleh para pakar menulis hebat, menghasilkan peserta menjadi penulis hebat. Tuhan meredhoi niat tulus tanpa pamrih para narasumber. Amal ibadah yang akan menyertai mereka kelak. Pahala laksana luasnya lautan.

Nah, kali ini bu evi berbagi  pengalaman menulis selama ini. Perjuangan pengalaman menulis yang dirasakan beliau.

Bagaimana memulai menulis. Bagaimana menuangkan ide. Bagimana mencari tema Tentu banyak hal kebingungan yang dirasakan. Tentu sama dengan apa yang kita alami.

Kondisi seperti itu, terpatahkan setelah beliau bergabung dengan guru hebat laiinya dalam kelas WAG Menulis.

Ilmu menulis sudah didapat. Tetapi ketika mendapat tantangan menulis buku dalam waktu 7 hari. Tersentak dan tak berani atas tantangan tersebut.

Ketidakpercayaan diri, hinggap dalam diri beliau. Betapa tantangan Prof. Eko seakan tidak akan mampu beliau perbuat.

Menurut hemat, saya tentu itu merupakan hal yang wajar. Saya pun pasti demikian. Kenapa? Karena stigma diri sebagai Penulis Pemula sangat melekat dalam hati. Sehingga tantangan secepat itu menulis, apalagi dalam 7 hari. Seakan tak mungkin bisa.

Tetapi ada kekuatan lain yang menyertai beliau untuk mencoba tantangan tersebut. tetapi menurut beliau dalam prosesnya dihinggapi rasa kebingungan. Harus melakukan apa?, apa yang akan ditulis.


Hebatnya dengan insting sang Profesor, semua peserta dipandu dan dimotivasi untuk selalu tetap konsisten. Alhasil, justru tema keseharian kegiatan beliaulah, yang melatarbelakangi. Sehingga berwujud menjadi sebuah buku, berjudul  KELAS MAYA “ Membangun Ekosistem E- Learning di Rumah Belajar”.

Punya mimpi dan harapan patut diperjuangkan. Hal yang terpenting untuk selalu fokus. Kemampuan menulis merupakan anugrah luar biasa.

Betapa Tuhan menciptakan alam raya dengan segala isinya. Dan memberikan anugrah tersebut untuk kita semua, tentu manfaat yang maha dahsyat dari Tuhan, memberikan risalah untuk kita ceritakan dengan mata hati dan pikiran melalui tulisan.

Perjuang bu Evi merupakan salah satu contoh mimpi yang menjadi kenyataan. Pecah telur beliau istilahkan.

Proses perjuangan yang panjang dalam menulis, hingga tulisannya terbit menjadi sebuah buku. Salah satu bukunya mulus terbit lolos tanpa kurasi. Diterbitkan pula oleh penerbit sekaliber Penerbit Andi.Perjuangan yang layak dijadikan tolak ukur.

Dalam sesi penutup pada paparan pengalamannya beliau menukilkan moto hidupnya “ Semakin dibagi semakin tak terbatas”.

Apakah kita mampu menerbitkan buku?.

Pasti mampu kawan. Dimana ada  kemauan disitu ada jalan.

Jadikan lah panduan kuliah di WAG Menulis. Banyak ilmu yang dibagikan oleh para narasumber. Tinggal kembali kepada diri kita. Untuk menulis lebih baik lagi.

Anda mau tulisannya menjadi sebuah buku?

Sayapun demikian. Buktikan !

Intisari dari dari ilmu menulis kali ini yaitu tekad dan niat.

Semoga Tuhan meredhoi mimpi dan harapan kita.Aamiin

 

Salam Literasi

Asikin Widi Jatnika

@Aikin

@Blogger Kampung

 

 

 

Terbaru

Spanduk Corona aja Mau

 Pagi ini.  Seperti biasa menunaikan kewajiban tugas ke sekolah.  Honda win menemani pula menghantarkan sang majikan bertugas.  Perjalanan m...

Teman Pena Maya